Translate

Rabu, 25 Oktober 2017



Assalamualaikum ;) yuuk sharing bareng Desti di pembahasan kali ini mengenai Media Darling dan Spoken Person :D berbagi ilmu ? Kenapa tidak kan ;)

Media Darling
Apasih Media darling itu? Media darling merupakan tokoh popular yang sering memperoleh perhatian dan menyenangkan dari media berita. Adapun pernyataan Pramono bahwa media darling adalah hasil dari bentuk demokrasi media  yang tidak sempurna karena peranan media yang terlalu besar dalam mengarahkan apa yang dipikirkan publik dan bagaimana memikirkannya. Popularitas Joko Widodo sebagai aktor politik pada tahun 2013 bisa jadi lebih banyak ditentukan oleh media dibanding oleh sesuatu yang faktual, objektif adan berdasarkan realitas sosial. Oleh karena itu, publik perlu memahami fenomena ini secara kritis dan tidak gampang percaya.
Media Darling adalah seseorang yang terbuka kepada pers dan mudah memberikan akses kepada insan media. Seseorang yang favorit dan populer dikalangan media, sehingga secara gencar dan terus menerus menjadi obyek pemberitaan.[1]
Media darling juga dapat disebut sebagai seseorang atau perusahaan yang menjadi kawan media dalam mendapatkan informasi. Hal ini dapat terjadi dikarenakan keunikan maupun perbedaan yang dimiliki seseorang ketika memberikan informasi dan wawancara dengan wartawan. Selain itu sikap seseorang atau perusahaan yang ramah serta terbuka kepada media juga mempengaruhi seseorang atau perusahaan sebagai media darling.
Fenomena media darling ini mengingatkan pada teori agenda setting, salah satu teori efek media yang mengasumsikan bahwa media memiliki kekuatan  besar untuk membentuk pikiran orang atau publik. Apa yang dipikirkan media sama dengan apa yang dipikirkan publik. Persoalannya adalah sekuat itukah media membentuk pikiran publik? Benarkah secara empiris, ketidakpercayaan publik terhadap tokoh tertentu sebagai akibat pemberitaan yang buruk tentangnya ataukah sebaliknya media darling akan selalu  berbuah persepsi positif publik?

Press Agency
Zaman dulu di Amerika ada lembaga yang disebut dengan press agency atau keagenan pers.[2] Lembaga ini adalah lembaga profit, menawarkan jasa untuk mempopulerkan atau membesarkan nama seseorang melaui media, pada saat itu media yang dimaksud adalah surat kabar. Biasanya orang yang memerlukan jasa ini adalah tokoh politik untuk memperoleh dukungan suara dalam pemilihan politik. Jadi konsep bahwa media mampu membangun citra seseorang sudah ada sejak lama.  Asumsi bahwa dengan pemberitaan yang positif akan meningkatkan elektabilitas seseorang juga sudah ada sejak lama. Kekuatan media seperti ini  dapat dipahami dalam konteks atau kondisi pada saat itu, yakni (1) media belum beragam dan jumlahnya tidak banyak sehingga kompetisi media rendah, dan (2) media hanya dapat menawarkan komunikasi satu arah atau linier yang menempatkan media adalah sumber dan pembaca adalah penerima. Dalam relasi seperti ini, posisi penerima adalah lemah dan pasif sehingga tidak memiliki kesempatan dan kemampuan untuk mengkritisi dan mengelaborasi. Hal ini juga didukung dengan sedikitnya jumlah media menyebabkan publik tidak memiliki pilihan sehingga ada kecenderungan tingginya ketergantungan publik pada media.
Kondisi tersebut tentu sudah berubah pada saat ini. Kompetisi media sudah sangat tinggi bukan hanya karena banyak penerbit surat kabar, tetapi juga tipe media yang lain seperti radio, televisi, bahkan media berbasis internet. Hal ini tentu memberikan banyak pilihan bagi publik pengguna media. Ketergantungan publik pada satu media kemungkinan tidak terjadi lagi. Yang kedua adalah publik semakin kritis karena mungkin latar belakang pendidikan juga semakin baik. Kekritisan ini menyebabkan kemampuan elaborasi terhadap pesan media juga meningkat. Publik akan membandingkan isi media yang satu dengan yang lain, dan akan menentukan media yang paling kredibel. Publik juga tidak hanya membandingkan pesan antar media tetapi juga membandingkan pesan media dengan realitas empiris.
Ketiga adalah karakter media yang memungkinkan  adanya interaksi, baik interaksi antar pengguna media dan interaksi antara pengelola media dengan pengguna. Interaksi ini juga memungkinkan meningkatnya kemampuan elaborasi terhadap pesan media. Merujuk  kondisi baru ini, secara teoritik mestinya  kekuatan media akan berkurang. Sekali pun media menyuarakan secara positif seorang politisi dalam intensitas yang tinggi, publik tidak akan semata-mata membangun persepsi yang sama. Bahkan ketika media tersebut dinilai publik tidak kredibel, maka pesan tersebut  akan diabaikan. Berdasarkan asumsi ini, media darling tidak berpengaruh pada sikap ataupun tindakan publik. Jadi ketidakpercayaan publik pada DPR – dalam kasus di atas – bukan disebabkan oleh pemberitaan media semata, namun juga disebabkan oleh pengalaman dan pengamatan publik secara empiris pada sepak terjang anggota DPR. Begitu juga dengan Joko Widodo sebagai media darling 2013 belum tentu akan mengarahkan pada persepsi positif publik. Secara teoritik dapat disimpulkan bahwa peranan media pada saat sekarang ini mengalami penurunan yang diakibatkan oleh kemampuan kritis dan elaboratif publik,  keragaman media dan keragaman isi berita, dan termasuk karakter interaktif dari media online.



Fakta Empiris

Apakah masyarakat Indonesia adalah publik yang kritis? Apakah banyaknya media di Indonesia juga menawarkan keragaman pesan atau informasi? Apakah ketergantungan kita pada media dalam memperoleh informasi menurun?

Ketiga pertanyaan  wajib dijawab untuk bisa mengukur kekuatan media di Indonesia. Jumlah stasiun TV di Indonesia sudah lebih dari cukup, penerbit surat kabar tentu juga banyak, demikian juga dengan radio, tetapi banyaknya media ini ternyata tidak diikuti keragaman informasi. Acara di televisi atau radio, rubrik di koran atau majalah, memiliki tema yang cenderung sama. Isi berita juga relatif sama pada semua media. Interpretasi terhadap berita yang ditawarkan media juga sama. Mengapa bisa demikian? Hal ini disebabkan media melihat khalayak pembaca dan penonton adalah pasar, dan informasi adalah komoditas. Jadi, informasi yang dijual mengikuti apa yang sudah jelas telah diterima dan diminati khalayak. Hasilnya adalah saling mengekor dan meng’copy’. Dalam kondisi semacam ini, khalayak akhirnya toh  tidak memiliki pilihan media kecuali mencari informasi dari sumber lain. Namun, seberapa banyak masyarakat Indonesia yang memiliki waktu untuk melakukan hal ini? Mungkin tidak banyak. Dengan kata lain, khalayak pengguna media di Indonesia tidak mampu menjadi kritis dan elaboratif karena sistem dan iklim komunikasi massa di Indonesia tidak kondusif. Perlu waktu dan upaya untuk membangun publik yang kritis dan mandiri sehingga mampu membentuk atau mengubah sistem dan iklim komunikasi massa yang seperti ini.




Spoken Person
Perangan seorang juru bicara dalam negara adalah sangat penting untuk mewakili lembaga yang dipegannya dalam konferensi pers atau dalam melakukan wawancara dengan wartawan ataupun media.
Menurut KBBI Juru bicara adalah orang yang kerjanya memberi keterangan resmi dan sebagainya kepada umum; pembicara yang mewakili suara kelompok atau lembaga; penyambung lidah.[3]

  Peranan Juru Bicara
Peranan seorang juru bicara dalam setiap organisasi sangat penting. Juru bicara adalah orang yang dipercayakan untuk mewakili manajemen dan organisasi. Apa yang dibicarakan oleh seorang jubir akan mempengaruhi persepsi umum tentang suatu organisasi.
Banyak sebuah organisasi mengangkat seorang juru bicara berdasarkan pada kedudukan[4] atau jabatan dalam organisasi. Yang menjadi pertimbangan adalah karena otoritas. Tetapi ada pula organisasi yang mengangkat juru bicara tidak berdasarkan pada posisi struktural. Bisa jadi seorang juru bicara dipercayakan kepada orang yang khusus menangani satu bagian atau unit khusus dalam organisasi tersebut.
Contohnya adalah Komisi Pemberantasan Korupsi. KPK mempunyai Juru Bicara yang sering tampil di depan publik mewakili organisasi itu. Meskipun dalam beberapa kesempatan para pejabat atau petinggi KPK juga memberikan keterangan, tetapi dalam aktivitas komunikasi secara rutin, Juru bicara KPK yang senantiasa tampil di depan umum. Memberikan keterangan terhadap wartawan, memperikan iformasi terhadap suatu kasus kepada publik terkait kasus yang sedang ditangani. Juru bicara selalu tampil memberikan keterangan kepada umum.
Berikut ini juga beberapa peranan dari seorang juru bicara adalah:
1. Orang yang menguasai masalah yang didukung oleh data dan fakta sebagai bukti pendudung.
              2. Sebelum tampil dan menyampaikan suatu informasi kepada umum ia harus tahu secara detail konteks    
                  permasalahan yang terjadi berkatian dengan organisasi atau informasinya.
3. Dapat meyakinkan mana informasi yang pantas atau yang benar untuk disajikan menjadi informasi
    publik/umum dan mana yang tidak pantas atau tidak boleh disampaikan.
4. Dan apa yang disampaikan mengenai informasi publik harus berkaitan dengan undang-undang yang 
    berlaku.
   
 Syarat Juru Bicara
Menjadi seorang juru bicara harus mempunyai kemampuan dan pengalaman dalam memberikan informasi dan mengkomunikasikan program. Sikap yang harus dimiliki seorang juru bicara adalah berwibawa dalam memberikan keterangan atau informasi. Selain itu, seorang juru bicara juga dituntut mempunyai sikap yang tegas agar pernyataan yang disampaikan tidak simpang siur.
Seorang juru bicara harus mempunyai wawasan yang luas dan pengetahuan yang cukup dalam bidang komunikasi publik/politik
Dalam memberikan informasi kepada publik baik melalui pemberitaan media atau tertulis[5] harus jujur dan dapat dipercaya oleh masyarakat. Seorang juru bicara tidak boleh berbohong atau menutup-nutupi informasi yang harusnya diketahui dengan jelas. Dan juga jangan menghindari atau mengeluarkan kata-kata yang tidak patut diucapkan. da kepercayaan dan amanat yang harus dimiliki seorang juru bicara dalam mengemban tugasnya.
Dan ketika menjelaskan informasi atau keterangan publik akan menilai penampilan atau bahasa tubuh seorang juru bicara dari cara dia mengucapkan informasi tersebut. Misalnya ketika menyampaikan informasi tentang bencana atau suatu musibah, maka publik akan menilai terhadap bahasa tubuh dan mimik wajah seorang juru bicara apakah dia ikut sedih atau malah tersentum.
 
  9 Tips Praktis Bagi Seorang Juru Bicara
Berikut ini sembilan tips penting yang wajib dilakukan oleh sang juru bicara. Tips ini sangat penting terutama bagi anda seorang pemula.
  1. Develop a message
Ini sangat penting  apa yang ingin anda sampaikan pada saat wawancara. Tuliskan tiga  kalimat yang paling penting anda ingin berkomunikasikan kepada penonton.
  1. Repeat, repeat, repeat
Anda harus mengartikulasikan setidaknya satu dari pesan anda dalam setiap jawaban. Anda tidak harus seperti burung beo yang selalu mengulang kembali kata demi kata tetapi harus mengkomunikasikannya dengan cerdik, dan fokus pada pesan inti.
  1. Transition
Tidak ada pertanyaan “sempurna”. Ini pekerjaan Anda sebagai juru bicara untuk membuat transisi, atau “jembatan,” dari pertanyaan mereka untuk pesan anda. Untuk membantu anda melakukan itu, anda dapat menggunakan baris seperti, “Yang paling penting untuk diingat adalah …” atau, “Yah, seperti apa yang kita lihat di sini adalah ….”
  1. Don’t make a new friend
Jika dalam  20 menit  wawancara anda berjalan lancar, anda mungkin berpikir pada diri sendiri: “Wow. Ternyata tidak sulit sama sekali” Saat anda merasa nyaman dan mulai berpikir bahwa reporter adalah teman anda, anda akan kesulitan untuk menjauh bahkan akan sering membuat kesalahan. Ingat anda boleh bersikap ramah tapi ingat mereka  bukan teman anda.

  1. Speak everyday English
Anda mungkin berpikir anda terdengar lebih kredibel jika Anda berbicara dengan istilah-istilah dan jargon hebat. Justru itu akan  menjadi penghalang antara anda dan audiens. Ketika berbicara dengan khalayak umum, menggunakan kata-kata yang mudah dimengerti.
  1. Don’t bury your lead
Ketika menjawab pertanyaan, jangan mengarah kepada kesimpulan anda. Berikan bagian yang paling menarik dari jawaban anda. Jika anda memiliki cukup banyak waktu, anda dapat kembali dan menyediakan topik lebih banyak tetapi jika anda tidak mendominasi, wartawan dapat dengan mudah memotong pembicaraan  sebelum anda mendapatkan kesempatan.
  1. Be your most engaging self
Ini terdengar seperti nasihat klise, tapi tidak. Kebanyakan juru bicara baru berpikir mereka harus mengubur sifat asli mereka yang harus terlihat seperti seorang juru bicara yang “resmi” atau “kredibel”. Justru itu akan terlihat membosankan. Jadilah diri anda sendiri. Sikap tubuh yang penuh kehangatan dan tersenyum yang menyenangkan.
  1. Speak 10 percent louder than usual
Jika Anda pergi ke depan televisi dan berbicara pada volume yang biasa, mungkin akan keluar dengan nada datar bahkan tidak terdengar sama sekali. Untuk sebagian besar dari kita, TV memiliki efek “mematikan” , berarti Anda harus berbicara sedikit lebih keras dari suara biasanya. Plus, meningkatkan volume biasanya membantu menghidupkan bahasa tubuh Anda.
  1. Watch your tone
Jika Anda merasa defensif, anda akan terlihat defensif. Daripada ucapan anda terlihat panik, mendingan anda bersikap tenang. Jika anda tidak memiliki jawaban yang tepat, penonton akan  cenderung untuk percaya tanggapan dari juru bicara yang tidak defensif.

Nah, dari sini dapat kita simpulkan bahwa spoken person atau juru bicara merupkan hal yang penting dalam mewakili lembaga yang dipegannya dalam konferensi pers atau dalam melakukan wawancara dengan wartawan ataupun media. Dan untuk menjadi seorang spoken person ataupun juru bicara haruslah mempunyai wawasan yang luas dan mampu beretorika dalam menyampaikan suatu informasi kepada khalayak terutama media. Dapun spoken person yang kita jumpai di Indonesia seperti Mata Najwa, Choki SItohang, dan juru bicara lainnya.



[1] Erlangga,2014:136
[2] Wulandari,Retno.Media Darling Jokowi. PT.Gramedia Pustaka Utama. Jakarta,2014.
[3] KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia)
[4] Darmastuti, Rini, Media Relations: Konsep, Strategi & Aplikasi, CV. Andi Offset, Yogyakarta 2012.
[5] Darmastuti, Rini. S.Sos., M.Si. 2012. Media Relations – Konsep, Strategi dan Aplikasi. CV. Andi Offset. Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar